Rabu, 16 Mei 2012

[Resensi Buku] Proses Kreatif Menulis Cerpen

-->
Jika Anda Ingin Menulis Cerpen


Judul Buku      : Proses Kreatif Menulis Cerpen
Penulis             : Hermawan Aksan
Pengantar        : Dewi Lestari, Novelis
Penerbit           : Penebit Nuansa, Bandung
Tahun Terbit    : Cetakan 1, November 2011
Tebal               : 216

            Tidak bisa disangkal lagi bahwa Membaca dan Menulis merupakan modal paling utama untuk menjadi seorang penulis. Jika seseorang yang ingin menjadi penulis tapi tidak suka membaca, maka dapat dipastikan karya yang ditulis akan dangkal. Sedangkan jika hanya senang membaca tanpa pernah menulis, maka impian menjadi seorang penulis hendaknya dikubur saja.
            Begitu juga Hermawan Aksan, membaca baginya adalah kebutuhan, dalam bab kesembilan belas (Membaca Itu Bernapas), Hermawan menulis: “Membacalah, maka akan kautemukan banyak sumber ide bagi penulisan. Tulisan akan bertambah kaya. Gaya tulisan akan terasah (hlm. 158).”
            Kepada para calon penulis cerpen, buku ini ditujukan dan direkomendasikan. Karena selain akan diajarkan bagaimana menulis cerpen yang baik, buku ini juga memuat banyak cerpen yang sangat bagus untuk dijadikan “bahan bacaan” yang bergizi untuk menyegarkan dan memperkaya ide untuk menulis. Ada sekitar sebelas cerpen dalam buku ini—tiga cerpen mini, dua cerpen Hermawan Aksan sendiri dan enam cerpen penulis lain. (ada cerpennya O Henry yang sangat legendaris juga loh!)
            Bagaimana dengan teori ataupun kiat menulis cerpennya? Tentu saja juga ada, malah lumayan lengkap dan dengan mudah dimengerti karena ditulis dengan bahasa yang sederhana. Mulai dari bagaimana menggali ide, mengenal unsur-unsur fiksi, menjaring tema dan topik, mencari judul, menyusun plot, membuka dan menutup cerita, memilih diksi, menyunting, sampai tips agar mudah diterima redaksi.
            Hermawan Aksan yang sebagai redaktur Harian Tribun Jabar, banyak memberikan bocoran tentang pertimbangan kebanyakan redaktur dalam memilih cerpen, mengapa sebuah naskah dimuat dan tidak. Penulis juga memberi saran bagaimana memperkaya isi cerita dan juga memberi tahu apa saja kesalahan-kesalahan penulis pada umumnya.
            Kesalahan-kesalahan yang biasanya dilakukan itu adalah menunda-nunda waktu penulisan, menuliskan kata-kata yang rumit padahal sebenarnya bisa dituliskan dengan bahasa yang lebih sederhana, menjelaskan dengan bahasa yang terlalu berbunga, berhenti di tengah jalan, cepat menyerah dan menunggu waktu yang tepat untuk menulis padahal menulis bisa kapan saja.
            Kemudian biasanya penulis pemula akan bmengeluh, “Saya ingin menjadi penulis, tapi saya tidak tahu apa yang bisa saya tulis?” Jawabannya bisa dilihat pada halaman 99, Hermawan menuliskan beberapa sumber-sumber ide yang bisa digali seperti Pengalaman Pribadi; Banyak penulis besar yang terpicu membuat karya dari pengalaman mereka, sebut saja Mochtar Lubis, Budi Darma, Ernest Hemingway. Kemudian, ide cerita bisa juga berasal dari Obrolan Dengan Orang Lain seperti cerpen Hermawan yang berjudul “Rose”. Bisa juga ide itu dari Sejarah, Petualangan, bahkan Mimpi, dan lain sebagainya.
            Di dalam buku ini Hermawan juga banyak menceritakan perjalanan kepenulisan pribadinya; tentang cerpen pertamanya yang dimuat, buku pertamanya yang terbit, pengalaman menerjemahkan buku, pengalaman menjadi editor dan penyunting buku, pengalaman menulis buku dalam sepuluh hari dan pengalaman menjadi redaktur. Pengalaman-pengalaman ini sangat baik untuk dijadikan pemicu semangat bagi penulis lainnya dan mereka yang bercita-cita menjadi penulis.
            Dari pengalaman tersebut Hermawan mengatakan, “Tapi dalam perjalananku, kemudian aku menyimpulkan bahwa, setidaknya, menulis itu tidak sesulit yang dibayangkan. Karena itu, melalui buku ini, aku juga ingin memberikan gambaran bahwa menulis itu bukanlah kegiatan yang rumit. Menulis juga tidak memerlukan bakat besar. Bakat yang biasa-biasa saja punya peluang menjadi penulis. Lagi pula,  siapa sih yang tahu bahwa kita punya—atau tidak punya—bakat menulis? Analogi yang yang paling terkenal adalah ucapan Thomas Alva Edison : 1 persen bakat, 99 persen kerja keras (hal 17).
            Ada dua kekurangan buku ini. Yang pertama, desain covernya kurang menarik, padahal desain isinya cukup menarik karena ditambahkan foto-foto penulis dunia dan gambar-gambar menarik di tiap awal bab. Dan yang kedua, ada pada beberapa pernyataan Hermawan yang sedikit janggal. Pada halaman 42, Hermawan menulis:
[Salah satu kekeliruan yang kerap dilakukan penulis pemula yang memakai sudut pandang orang pertama adalah tokoh lain di luar si “aku” juga mengetahui isi hati dan pikirannya. Misalnya:
‘Matanya yang tajam menghujam ke wjahku. Giginya gemeretak menahan marah. Ia menganggapku lelaki ang tidak tahu diri.’
Bagaimana si “aku” tahu bahwa tokoh “ia” memiliki anggapan seperti itu?]
            Hermawan benar dengan mengatakan tokoh utama atau “aku” tidak bisa mengetahui apa yang dirasakan “ia”, tapi bukankah si “aku” boleh-boleh saja mengira apa yang dipikirkan “ia”? Kejadian itu sama seperti saat kita mengira orang lain menganggap kita bodoh karena orang itu menertawakan kita dengan pandangan mata yang meremehkan. Jadi kalimat ini bukan sebuah kesalahan atau kekeliruan.
            Kemudian di halaman 75 Hermawan menulis:
[Contoh lain, seorang redakur cerpen sebuah harian pernah menceritakan pengalamannya membaca cerpen seorang pemula. Pada salah satu alinea cerpen dituliskan:
‘Malam itu semakin dingin. Padahal pintu dan jendela  kamar sudah tertutup rapat. Di luar, langit hitam tanpa bintang.’
Lho, kalau kamar itu tertutup, bagaimana si tokoh tahu di luar langit tanpa bintang?]
            Anggapan Hermawan benar jika pada alinea itu diketahui bahwa sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang Orang Pertama—yang terbatas. Tapi anggapannya salah jika alinea ini menggunakan sudut pandang Orang Ketiga Serba Tahu. Jadi, kita belum bisa menyalahkan atau membenarkan, sebelum alinea yang dikutip Hermawan itu diketahui menggunakan sudut pandang apa.
            Sudah banyak buku kepenulisan yang beredar di Indonesia, tapi buku kepenulisan yang mengkhususkan pada cerpen dan ditulis oleh orang Indonesia sendiri tergolong langka. Kita mungkin cuma bisa menyebut buku  seperti Yuk, Nulis Cerpen Yuk oleh Muhammad Diponegoro, Kiat Menulis Cerita Pendek oleh Harris Effendi Thahar, atau Creative Writing: Tips dan Strategi Menulis Cerpen dan Novel karya A.S. Laksana. Dan buku Proses Kreatif Menulis Cerpen karya Hermawan Aksan ini pun telah mengisi kekosongan literatur tersebut. Sebuah karya yang patut diapresiasi.
            Jadi tunggu apa lagi? Ingin menulis cerpen? Baca buku ini!

Rabu, 11 April 2012

[BOOK REVIEW] DEAR WRITER, THE CLASSIC GUIDE TO WRITING FICTION

Bukan Buku Biasa

Judul Buku: Menulis dengan Emosi (Panduan Empatik Mengarang Fiksi)
Diterjemahkan dari: Dear Writer; The Classic Guide to Writing Fiction
Penulis: Carmel Bird
Penerjemah: Eva Y. Nukman
Penerbit: Kaifa
Tebal: 260 halaman
Tahun: cetakan II, 2001
***


            Apa itu Buku Ajaib? Buku Ajaib hanyalah sebuah istilah yang saya pakai saat menyebut buku yang paling memengaruhi hidup saya, buku paling bersejarah bagi saya. Apa semacam buku Favorit? Tidak. Bagi saya itu berbeda. Lalu apa bedanya Buku Ajaib dan Buku Favorit? Buku Favorit adalah buku yang sangat saya sukai, jumlahnya relatif banyak karena buku bagus yang saya baca jumlahnya juga cukup banyak, tapi belum tentu buku ini memengaruhi hidup saya. Tapi Buku Ajaib sudah pasti favorit saya dan jumlahnya relatif sedikit bahkan mungkin jumlahnya cuma satu, dan benar-benar sangat mempengaruhi hidup saya. Dan Buku Ajaib saya itu adalah buku ini, Menulis Dengan Emosi....

            Seperti saat kita mencintai seseorang dengan (tanpa/sedikit/banyak) alasan, begitu juga saya sangat mencintai buku karya penulis perempuan Australia bernama Carmel Bird ini. Mungkin karena buku ini adalah salah satu buku-buku pertama yang saya baca dan isinya langsung memukau, dengan kata lain hati saya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Apa pun alasan itu buku ini membuat saya memiliki tujuan hidup, mimpi, harapan, cita-cita. Karena buku inilah saya berani menetapkan impian saya menjadi seorang Penulis... Amin.

            Saya menemukan buku ini di gudang. Tertimbun bersama buku pelajaran dan lembaran-lembaran berdebu milik kakak perempuan saya. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA, kakak saya kuliah di luar kota dan saya sendirian di rumah bersama orang tua. Buku ini sempat saya sisihkan karena tidak mengerti maksudnya dan waktu itu saya belum menyukai buku dan tidak pernah membaca buku selain buku pelajaran dan buku keagamaan. Tapi setelah saya baca berkali-kali seolah ada benih dalam hati saya yang berkecambah, tumbuh, lalu berbunga, merekah merah sangat cantik. Bunga ini berseri-seri sampai sekarang dan anehnya bunga ini tidak mau disirami air tapi hanya bahagia saat disiram kata-kata, kisah mengharukan yang menyentuh perasaan, cerita lucu, dongeng menakjubkan, bacaan dari sebuah buku. Kini bagi saya membaca adalah ibadah dan nafas jiwa.

            Mulai dari covernya saja saya sudah cinta. Berjudul Menulis dengan Emosi; Panduan Empatik Mengarang Fiksi—judul asli: Dear Writer: The Classic Guide to Writing Fiction. Dan masih pada covernya, tertulis kata-kata indah dari William Forrester, “Menulislah—pada saat awal—dengan hati. Perbaiki tulisan Anda dengan pikiran. Kunci pertama dalam menulis adalah bukan berpikir, melainkan mengungkapkan apa saja yang Anda rasakan.” Kelak kata-kata ini menjadi semacam mantra saat saya menyemangati diri sendiri dan orang lain jika bingung saat hendak menulis.

            Lalu saya buka halaman selanjutnya dan saya dikagetkan lagi dengan kata-kata bertenaga dari tiga pengarang besar dunia yang terdengar sangat mistis dan spiritual. Mark Twain, Bapak Sastra Modern Amerika, mengatakan, “Aku temukan bahwa semakin jauh aku mundur, semakin baik aku mengingat segala sesuatu, baik yang terjadi maupun tidak.” Kalimat kedua berasal dari pengarang novel Lolita, yang legendaris dari rusia, Vladimir Nabokov, “Sastra adalah penciptaan. Fiksi adalah fiksi. Menyebut sebuah cerita sebagai kisah sejati merupakan penghinaan bagi seni maupun bagi kebenaran.” Dan kutipan ketiga dari William Kennedy, berbunyi, “Menulis adalah seni yang begitu rumit, sungguh rumit memahami apa yang Anda coba keluarkan dari imajinasi Anda sendiri, dari kehidupan Anda sendiri.”

            Ketiga kutipan itu masih pada lembar awal, pada halaman-halaman selanjutnya Anda akan disuguhi kutipan-kutiapan inspirasional dari berbagai penulis terkenal dunia yang lainnya. Terlihat sekali bahwa Carmel Bird merupakan penulis yang sangat rajin membaca, mencatat, dan mengkliping banyak kutipan bertenaga tersebut, Anda bisa membuktikan jika Anda membaca buku ini sendiri. Di setiap awal bab—ada dua puluh dua surat (bab) dan tiga lampiran—akan dibuka dengan judul yang unik kemudian dibubuhkan kutipan yang berhubungan dengan bab tersebut. Saya ambil contoh pada Surat (bab) Kesepuluh, judul bab ini sangat unik: “Nama Sang Bayi. Judul bab ini dipakai Carmel Bird saat akan menuliskan bab yang akan membicarakan bagaimana mencari sebuah judul untuk tulisan kita. Lalu di bawah judul bab, ada kutipan dari Anais Nin, “Penggunaan kata yang menakjubkan itu dimaksudkan sebagai ajakan untuk ikut serta.” dan tak jarang di dalam isi suatu bab pun masih tertempel kutipan lain dan diberi kotak khusus. Begitu juga dengan surat-surat lainnya.

            Bukan berarti Carmel Bird hanya ‘tukang kutip’ orang lain, kata-kata darinya sendiri sangat mengilhami dan sangat memotivasi, saat dia meyakinkan bahwa semua orang berpeluang menjadi penulis  dan menyangkal bahwa diperlukan bakat besar untuk menjadi seorang penulis,  dia mengatakan “...bahwa bakat bisa ditemukan, diasah dan dikembangkan.” Lalu, pada pendahuluan, Carmel mengatakan, “...bahwa menulis fiksi lebih dari sekedar penguasaan teknik. Penulis juga harus merupakan pembaca, harus tahu cara membaca, dan cara berpikir tentang membaca dan menulis.” Bahasa yang dia gunakan sangat luwes, cerdas dan tulus, jauh dari kesan kaku buku manual atau menggurui. Saat dia memberi latihan pun, dia melakukannya dengan ajakan yang halus. Sehingga kita tidak terasa (atau dengan senang hati) saat mengerjakan latihan-latihan kecil yang dia minta kita lakukan.

            Saya rasa penyusunan buku ini sangat jenius. Dia merancang bukunya sedemikian rupa agar terasa hidup danmudah dipahami oleh murid-muridnya. Dan akhirnya dia pun menuliskannya dalam bentuk surat-menurat antara editor bernama Virginia O’Day kepada seorang perempuan yang sedang menulis fiksi, yang dia sapa “Dear Writer”; sebuah sapaan yang sangat mengakrabkan penulis dan pembaca, serta akan mengakhiri suratnya dengan “Salam Manis”. Jadi, buku ini adalah sebuah fiksi tentang fiksi. Dan dalam surat-menyurat ini, pembaca diberi sajian berbagai nasihat praktis menulis maupun saran-saran yang membesarkan hati dan menggugah semangat menulis—dari mencari ide cerita dan berimajinasi, cara mengawali dan mengakhiri cerita, hingga mengirimkan naskah yang sudah rampung ke majalah atau penerbit.

            Buku yang menjadi bacaan wajib di beberapa universitas di Australia ini dilengkapi dengan sebuah esai yang terlampir mengenai dorongan menulis dan proses kreatif dalam mengarang salah satu cerpen indahnya yang berjudul “Saat Keemasan”. Dan juga dilengkapi dengan profil penulis yang dikutipnya dalam buku ini. Carmel Bird sendiri telah menerbitkan tiga novel, empat kumpulan cerpen, dan dua buku inspirasi bagi penulis. dan dia juga seorang pengajar berpengalaman tentang karang mengarang (creative writing). Dia lahir di Tasmania pada tahun 1940 dan sekarang tinggal di Melbourne.

            Carmel tak henti-hentinya memotivasi pembacanya untuk tidak patah arang saat menulis, dia menulis, “Yang terpenting adalah tetap bekerja, pekerjaan sesungguhnya adalah tetap bekerja, terus dan terus sampai Anda puas bahwa Anda telah menyuarakan pandangan pribadi Anda tentang dunia, dengan cara yang membuat orang lain akan mendengarkan—dan akan merasa suka, terinformasikan, serta mungkin takjub.”
Karryn Goldsworthy dalam Australian Book Review mengatakan, “Ada beberapa alasan yang bagus untuk membeli dan membaca buku ini, tak hanya bagi orang-orang yang ingin menjadi penulis, tetapi juga bagi penggemar sastra, atau siapa pun yang suka membaca tulisan tentang menulis.”

            Meniru Mem Fox, pengarang Possum Magic, saya juga meneriakkan hal yang sama, “Menulis Dengan Emosi—saya suka sekali buku ini!”

            Jadi apa Buku Ajaibmu?

Jumat, 16 Maret 2012

[BOOK REVIEW] A CHRISTMAS CAROL

KESEMPATAN KEDUA, KESEMPATAN EMAS

APA yang Anda rasakan saat Anda tahu bahwa Anda (akan) mati? Misalkan seseorang divonis dokter bahwa dia mengidap penyakit mematikan dan umurnya hanya sebentar lagi... Bagaimana perasaannya?
          Pasti dia akan Shock!!!
          Orang itu pasti sangat takut. Alasan ketakutan itu pun banyak. Mungkin dia merasa banyak dosa, banyak berbuat kesalahan pada orang lain, cita-cita yang belum terwujud, janji pada orang, masih banyak hal yang ingin dilakukan dan seterusnya. Kesimpulannya pada umumnya kebanyakan manusia akan takut. Dan mereka pun mengharapkan kesempatan kedua, Kesempatan berikutnya, Kesempatan Emas...
          Meskipun sulit dipercaya, suatu saat kita akan berhenti bernafas, kita akan mati. Tapi kematian begitu biasa sampai kita tidak merasakan apa pun saat ada kematian. Tapi tidak bagi sebagian orang, apalagi yang mengalami pengalaman spiritual seperti yang dialami Ebenezer Scrooge, tokoh dalam novel karangan Charles Dickens ini.
  
          Orang tua jahat yang ditakuti banyak orang dan sudah terkenal di seantero London karna kepelitannya ini suatu hari—pada malam Natal—ketika hendak tidur, didatangi arwah rekan bisnisnya yang bernama Jacob Marley. Semasa hidupnya, Marley juga sama jahat dan kikir seperti Scrooge. Akibatnya saat pemakaman Marley, tak ada satu pun orang yang datang dan bersedih untuknya. Hanya rekan satu-satunya inilah yang hadir dan bersedih karena harus membayar pemakaman tersebut, Scrooge tidak bersedih karena kematian itu sendiri.
          Lalu malam itu datang, tepatnya tujuh tahun setelah kematian Marley, arwahnya datang pada Scrooge dan muncul dalam keadaan yang sangat mengerikan. Wajahnya seperti menanggung derita tak tertahankan, tubuhnya dililit rantai-rantai yang panjang dan rantai-rantai itu diganduli harta kekayaannya semasa hidup.

  
          Dengan suara melolong arwah Marley berkata pada Scrooge, “Aku datang untuk memperingatkanmu bahwa kau masih punya kesempatan untuk lolos dari nasib seperti aku ini. Kau akan didatangi tiga roh—Hantu Natal Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan.”

          Dentang lonceng gereja berbunyai, Hantu Pertama pun datang...

          Hantu pertama—berukuran kecil, berwajah tua, dan kepalanya terbakar—membawanya terbang melintasi kotanya. Scrooge diajak kembali  ke tempat tinggalnya di masa kecilnya. Dia diajak melihat Natal masa lalunya, Scrooge tua melihat Scrooge kecil yang hidup dalam kesusahan dan kemiskinan, lalu dia juga diajak melihat kematian adik perempuannya yang berhati mulia.
          Hantu itu juga mengingatkan padanya bagaimana Scrooge yang dengan sangat kejam memutuskan pertunangannya hanya karena mengetahui keluarga Belle (tunangannya) jatuh miskin.
           Hantu kedua—raksasa pembawa obor yang berwajah periang—menunjukkan Natal pada masa sekarang. Dia membawa Scrooge untuk melihat orang-orang yang benci padanya sekarang. Dia diperlihatkan pada keluarga keponakannya yang sedang membicarakannya di ruang makan.
Dia juga ditunjukkan nasib pengawai satu-satunya yang miskin. Bob Cratchit, nama pegawai itu, mempunyai anak yang sakit parah hampir mati karena gaji kecil dari majikannya kecil dan tak sanggup mengobatkan anak bungsunya itu, Tiny Tim.
          Dan yang terakhir, hantu yang paling menakutkan, menghadirkan Natal yang akan datang. Memperlihatkan saat kematiannya. Dia jatuh terjungkal dari tangga batu yang tinggi dan terkapar di jalanan tapi tak satupun orang menghiraukan, bahkan orang-orang menertawakannya. Scrooge juga dibawa ke kuburan yang bernamakan dirinya pada batu nisannya: EBENEZER SCROOGE.
          
Scrooge menangis, mengiba, meminta kesempatan kedua agar dia bisa membayar kesalahannya dan menjadi orang baik.


          Dan betapa senangnya saat dia tahu dia tidak jadi mati, dia mendapatkan kesempatan itu. Semenjak malam itu Scrooge banyak berubah. Tidak ada orang tua yang pelit, angkuh, pemarah. Seperti janjinya, dia menjadi pribadi yang lebih baik, malah sangat baik. Dia berkunjung ke rumah keponakannya, Fred, anak dari adik perempuannya yang sudah meninggal itu. Dia membantu keuangan pegawai setianya. Bagi Tiny Tim yang kemudian sembuh, Scrooge seperti ayah kedua. Dia menjadi teman yang baik, majikan yang baik, serta orang yang paling baik yang pernah ada di London.


          Bagi saya Novel ini sangat luar biasa! Meskipun menceritakan tentang Natal, yakni hari raya umat Kristiani, namun kmahnya bisa dipetik seorang Muslim, Buddist, atau pemeluk agama lainnya, yakni WELAS ASIH. Menjadi pribadi yang sebaik-baiknya agar kita berbahagia di dunia dan mempersiapkan pula kebahagiaan di alam kemudian.

  


          Sebuah pelajaran moral tingkat tinggi dari Mr. Charles Dichens melalui sebuah novel klasik berjudul A Cristmas Carol. Tidak salah jika novel ini masuk dalam daftar “1001 Buku yang Wajib Baca Sebelum Mati”!

Selasa, 14 Februari 2012

Alasan Mencari Ilmu

(sms masuk dari Mas Abdan) "Manusia memiliki dua jenis Mindset; pikiran tetap (fixed mindset) cenderung sangat mementingkan ijazah dan gelar sekolah, sedangkan yang tumbuh (growth mindset) tetap menganggap dirinya 'bodoh'..." -Rheland Kasali-

Sarjana yang hanya bertujuan untuk lulus membawa ijazah atau sertifikat keahlian bagaikan anjing pemburu yang berhasil menangkap (menggigit) unggas mati di mulutnya...
(sms balasan untuk Mas Abdan)






seperti kehidupan Stephen King (Novelis Horor) sebelum dia tenar, miskin.
waktu itu ibunya mengatakan sesuatu yang ditulis King dalam On Writing: A Memoir of the Craft (hlm 81)
"Kau mungkin ingin menikah, Stephen, dan kamar mungil di tepi Sungai Seine hanya akan terasa romantis jika kau bujangan." dia pernah bilang. "itu bukan tempat membangun keluarga."

aku mengikuti sarannya, masuk ke College of Education di UMO dan keluar dari sana empat tahun kemudian dengan ijazah guru...hampir seperti seekor anjing golden retriver keluar dari kolam dengan bebek mati di mulutnya. Ijazah itu barang mati, sungguh..."

Minggu, 12 Februari 2012

[BOOK REVIEW] Foucault's Pendulum

Rencana dan Bencana



Judul: Foucault's Pendulum
Pengarang: Umberto Eco
Penerbit: Bentang Pustaka
Penerjemah: Nin Bakdi Soemanto
Tahun: 2010

........................

Waktu saya selesai membaca Foucault’s Pendulum, rasanya seperti baru saja melahirkan! Lega sekali. Bagaimana tidak? Selain halamannya yang tebal dan luas (tebal: xii+694 hlm. Ukuran kertas: 15,5cmx23,5cm), fontnya kecil-kecil (mungkin 11. Jika ada kutipan maka fontnya jadi tambah kecil, mungkin 10), dan bahasanya alamak rumit banget! Rumit dan juga pelik.

Tapi ajaibnya novel ini tidak membosankan sama sekali, malah ingin membaliknya terus menerus. Dan setelah selesai dan tamat membaca novel ‘berat’ ini, rasanya ingin mengulang membacanya dari awal lagi. Saya menyebutnya novel ‘berat’ karena memang selain bobot buku ini cukup lumayan, novel ini penuh berisikan banyak kata-frasa-kalimat yang sulit dicerna (bahkan banyak frasa latin yang tidak diterjemahkan), mitos, filsafat dan teka-teki matematika. Membuat kepala penuh. Tapi anehnya (tadi ajaib sekarang aneh) saya sama sekali tidak ingin meletakkan novel ini, mungkin karena alur dan jalan ceritanya yang menawan, atau mungkin karena keluwesan Umberto Eco dalam memakai bahasa dan simbol, serta rentetan kiasan dan rujukannya sangat menakjubkan itu yang memikat saya, dan pembaca lainnya! Saya bagai dihidangkan dengan jamuan mewah oleh pemilik rumah yang penuh cita rasa. Kesan yang saya peroleh lainnya saat membaca novel ini adalah saya seperti terbawa masuk pada era abad pertengahan yang begitu kental pada novel ini. Perasaan seperti itu tidak lain karena memang Umberto Eco adalah seorang ahlinya Zaman Pertengahan. Dan akhir novel ini sungguh tak terbesit sama sekali.

Ringkasan cerita: Tiga editor (Belbo, Diotallevi dan Casaubon) sebuah penerbit buku (Garamond Press) yang lelah membaca bertumpuk-tumpuk manuskrip sinting tentang teori-teori konspirasi okultisme (gaib, mistik) mulai terinspirasi oleh kisah konspirasi luar biasa yang diceritakan oleh kolonel aneh, memutuskan untuk sedikit bersenang-senang dengan membuat teori konspirasi mereka sendiri. Sebuah teori konspirasi baru yang menghubung-hubungkan dengan teori konspirasi lain. Dari Freemasonry, Kabala, hingga Kesatria Templar, tak satu pun terlewatkan (Saya dibuat bengong karena kurang begitu tahu perkumpulan rahasia semacam ini). Teori baru itu mereka namai “The Plan” atau dalam novel terjemahan ini disebut “Rencana”. Namun, permainan ini berubah menjadi teror ketika para penggemar dan peneliti teori konspirasi menganggap “Rencana” benar-benar serius. Lebih buruk lagi, sebuah perkumpulan rahasia meyakini bahwa salah seorang editor tersebut memiliki kunci harta karun milik Kesatria Templar yang hilang.

Mereka mulai mengacak informasi di komputer dan tak pernah membayangkan akibat mengerikan dari perbuatan mereka. Mereka hanya berpikir sedang bersenang-senang. Namun ketika permainan itu dimulai, kematian demi kematian pun dimulai. Dan, mereka berada dalam situasi yang  menggelisahkan.
Judul asli dalam bahasa Italia yakni Il Pendolo di Foucault diterbitkan di negaranya pada tahun1988 kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris setahun kemudian oleh William Weaver menjadi Foucault’s Pendulum, kemudian diterjemahkan oleh Nin Bakdi Soemanto dalam bahasa Indonesia tiga puluh tahun berikutnya dan terbitlah novel ini pada November 2010. (Dalam hati saya bertanya, mengapa lama sekali baru diterjemahkan? 30 tahun)

Judul buku mengacu kepada pendulum yang sebenarnya dirancang oleh fisikawan Perancis Léon Foucault untuk menunjukkan rotasi bumi, yang memiliki arti simbolis dalam novel ini. Meskipun beberapa percaya mengacu pada filsuf Michel Foucault, Eco dengan tegas menolak anggapan itu. Novel ini terbagi menjadi sepuluh bagian dari Sefirot Kabbala yang berisi 120 bab, jumlah bab yang indah bukan? Tiap bab diawali dengan kutipan dari buku-buku filsafat dan sejarah, seperti yang saya katakan tadi rujukan Eco sangat menakjubkan.

Karena begitu banyaknya referensi esoterik (yang hanya diketahui dan dipahami orang tertentu) dan alkimia, maka banyak kritikus yang menyarankan untuk dimuatnya indeks dan glosarium. Dan dalam terjemahan Indonesia ini tidak diberi indeks tapi dilengkapi glosarium yang menurut saya sangat kurang dan tidak efektif karena glosarium dibuat berdasarkan urut abjad bukan urut tiap bab seperti glosarium pada novel Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, dan glosarium dalam novel ini pun saya temukan sedikit ada yang kurang tepat. Seperti contoh saat mengartikan “Fiat Lux”. Di sini diterangkan bahwa Fiat Lux adalah “Frasa bahasa Latin  yang berarti “maka jadilah”. Yang merujuk pada firman Tuhan dalam Kitab Kejadian [1:3] “Tuhan berfirman, jadilah, maka jadilah.” Tentu saja keterangan ini kurang benar karena ayat di atas itu adalah ayat dalam Al Quran Surah Yaasiin (36) ayat 82. Sedangkan Kitab Kejadian pasal 1 ayat 3 berbunyi “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi” walau serupa tapi tidak sama.

Kekurangan yang lain adalah tidak diterjemahkannya frasa Latin yang sangat banyak pada novel ini. Mungkin penerjemahnya dikejar tenggat waktu sampai tidak sempat menerjemahkan frasa-frasa tersebut, apalagi novel setebal ini. Padahal pada novel Umberto Eco yang lebih dulu (The Name of the Rose) penerjemah yang sama yakni Nin Bakdi Soemanto selalu menerjemahkan frasa tersebut ke bahasa Indonesia melalui footnote. Akibat frasa Latin yang tidak diterjemahkan itu, pembaca yang tidak paham bahasa Latin seperti, saya cuma bisa mengira-ngira artinya, hanya menikmati nuansa dan bunyi frasa itu terucap, atau seringkali malah frasa itu saya tinggal tidak saya baca.

Namun terlepas dari itu, novel ini sangat mudah diikuti dan plotnya pun sangat menawan. “Alur cerita sangat dinamis bahkan lebih kaya intrik dibanding The Name of the Rose.” Begitulah komentar New York Times. Dan saya pun setuju, saya lebih tergerak membaca Foucault’s Pendulum daripada The Name of The Rose.

Saran saya jika Anda membaca novel ini, siapkanlah pensil untuk menggarisbawahi ungkapan-ungkapan dan metafora-metafora jenius bahkan kadang lucu yang dilontarkan Eco dalam novelnya ini, karna sayang sekali jika tidak Anda tandai dan saat Anda ingin mencarinya kembali hal itu menjadi sulit karena tebalnya halaman. Dan bacalah beberapa kali halaman-halaman yang tidak Anda mengerti maksudnya karena sastra berkualitas memang perlu dibaca pelan-pelan, berkali-kali, dan mungkin butuh tempat yang agak sepi dan secangkir kopi.

Jika Anda menyukai novel-novel Dan Brown, maka saya jamin Anda akan lebih puas membaca Foucaut’s Pendulum, buktikan sendiri!

Kamis, 15 Desember 2011

Obral Buku Gramedia

apa yang paling disukai kutu buku (istilah kerennya Bookaholic)?
tentu buku! terutama buku Murah..
di Gramedia Royal Plasa deket kampusku ada obral buku gedhe2an, bahagianya...
sudah 20 buku yang kuboyong... kurang dikit lagi... moga ada duiit ^-^

Antara Kopi dan Buku


Selalu sediakan secangkir kopi (atau lebih) untuk menemani dua buku (Buku yang kau baca dan buku yang kau tulis)~mengenang saat membaca Foucault's Pendulum~




dari kata-kata Novelis Robert Louis Stevenson: "Sepanjang masa kanak-kanak dan muda saya..
saya selalu membawa dua buku di saku, satu untuk dibaca, satu untuk ditulisi."