Kamis, 27 Desember 2012

[BOOK REVIEW] BROKEBACK MOUNTAIN

~Jack & Ennis: Cinta Tak Berkesudahan~
...............

Brokeback Mountain (Gunung Brokeback) by Annie Prolx, diterjemahkan oleh Hetih Rusli, tahun 2006, Gramedia Pustaka Utama.

Anda pernah menonton film Brokeback Mountain?

Film yang menangkap makna kesepian, kesendirian, gairah, dan cinta, dengan sangat intim, membius dan menyiksa batin. Itu adalah film adaptasi dari novelet (cerpen panjang) yang sama bagus dari bukunya! Jarang sekali ada film adaptasi dari buku yang tidak terlalu jauh meleset dari buku aslinya. Coba lihat Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara, Ayat-Ayat Cinta, The Da Vinci Code ... jauh sekai dengan bukunya, bukan? Tidak untuk Brokeback Mountain! Pantas apabila sutradara film ini meraih penghargaan Golden Globe 2006 untuk Sutradara terbaik dengan film Brokeback Mountain.

Dari film ini emosi kita diaduk-aduk, dipertontonkan ribuan domba, pemandangan pegunungan yang luar biasa indah, dan juga konflik yang luar biasa berat. Annie Proulx berhasil merangkai cerita paling musykil dan pribadi dengan sangat elegan. Mari simak pendapat Ang Lee (sutradara Brokeback Mountain) tentang buku ini:

“I read the shoort story by Annie Proulx on which the screenplay is based, and I don’t know what hit me. I cried.”

Ya, aku juga menangis ...

Membaca Brokeback Mountain membuatku tak sekedar mengerti kehidupan dua pria yang saling mencintai tapi juga perjuangan mereka untuk menutupinya, bersembunyi, dan menerima konsekuansi pahit dari mereka yang homophobia.

Dua tokoh utama dalam “short stories” setebal 78 halaman ini ialah Jack Twist dan Ennis Del Mar yang memiliki karakter yang sangat alami dan macho. Di filmnya, Jack Twist diperankan oleh Jake Gyllenhaal sangat baik sekali. Namun aktor pemeran Jack Twist ini terasa terlalu tampan dan giginya sangat bagus, lurus, tidak seperti yang di gambarkan oleh penulisnya: “senyumnya memperlihatkan giginya yang agak maju, meski tidak sampai tonggos hingga bisa membuka tutup botol, tapi cukup mencolok.”—hlm 12. Sedangkan pemeran Ennis Del Mar, Heath Ledgar sangat pas dengan cerita ini.

Oke, dari tadi aku membanding-bandingkan buku dan filmnya, padahal seperti yang dikatakan J.W. Eagen, “Jangan menilai sebuah buku dari filmnya.” Yang memang sangat beralasan, tapi untuk buku ini saya akui filmnya luar biasa. Oke setelah ini aku akan membahas bukunya saja, selamat tinggal film...

Akan kuringkaskan seringkas mungkin kisah dalam buku ini. Kisah beralur flashback ini dibuka dengan ingatan Ennis Del Mar akan Jack Twist yang telah meninggal. Ennis diliputi perasaan gembira karena Jack Twist ada dalam mimpinya. Setelah itu, kisah gay yang romantis dan pahit ini pun di mulai. Kembali pada masa ketika dua pemuda berusia sekitar 19 tahun (aku lupa dan kurang yakin akan usia mereka) yang masih tanggung itu dipertemukan di Gunung Brokeback, tempat mereka menjadi gembala untuk ribuan domba. Ada pembagian tugas dari Joe Aguire (mandornya) yang tidak manusiawi, yakni salah satu di antara mereka (dia menunjuk Jack) harus diam-diam mendirikan tenda yang sangat jauh dari perkemahan yang seharusnya, malah dia dipaksa tidur dan berjaga di dekat ribuan domba itu tidur, bau sekali, dan juga dingin karena tanpa api, agar tidak ketahuan Dinas Kehutanan. Sedangkan Ennis harus menyiapkan pasokan makanan di lembah.

Beberapa waktu berlalu dan Jack tidak tahan akan jarak perjalanan dan waktu yang terlampau panjang, akhirnya Ennis menawarkan pergantian posisi. Lalu pada suatu hari ketika Ennis sangat mabuk dan tidak kuat untuk menuju domba, memutuskan untuk tidur di perkemahan bersama Jack, dan di sanalah awal keintiman mereka. Dan hari-hari pun mereka lalui dengan bahagia di gunung. Namun saat mereka harus turun gunung dikarenakan ada badai besar yang akan datang, mereka pun berpisah. Dan Annie Proulx menggambarkan keadaan menyakitkan itu seperti ini:

“Ennis merasa seakan isi perutnya ditarik keluar perlahan-lahan, sedikit demi sedikit. Dia berhenti sejenak di tepi jalan, dan dalam serbuan salju yang baru turun dia berusaha muntah, tapi tidak ada yang keluar. Belum pernah dia merasakan seburuk ini, dan butuh waktu lama hingga perasaan itu hilang.” (hlm 27)

Setelah itu Ennis menikah dengan Alma, dianugerahi dua puteri. Dan Jack menikahi Laureen (Ayah Laureen membenci Jack) dan dianugerahi seorang putera. Dan empat tahun setelah itu, Ennis dan Jack bertemu lagi (dan dilanjutkan pertemuan yang intens) dari sanalah konfik paling menakutkan itu dimulai dan berakhir tragis dengan kematian Jack yang misterius (dan hanya bisa dijawab dengan membaca bukunya, tidak dengan menonton filmnya).

Satu kata untuk melukiskan ending kisah ini: HEBAT!

Dari segi penuturan, Annie Proulx banyak sekali memanjakan pembaca Brokeback Mountain dengan pemandangan yang aduhai indah sekali, dia sangat jenius dalam memaparkan setting dan situasi. Coba simak satu kalimat yang indah di halaman 14: Fajar datang dalam warna jingga seperti berselaput kaca, dengan pantulan warna hijau pucat seperti agar-agar dari bawahnya.

Melalui tokoh Jack Twist, penulisnya menggambarkan Brokeback Mountain dengan sangat puitis: 
di mana burung-burung bluebird bernyanyi dan ada mata air yang mengeluarkan wiski.—hlm 67.

Jack melempar kayu bakar ke api, percikan-percikan api melayang ke udara bersama dengan segala kejujuran dan dusta mereka, sejumlah bunga api yang panas mendarat di tangan dan wajah mereka, bukan untuk pertama kalinya, dan mereka bergulingan di tanah.—hlm 56-57.

Metafora yang dituliskannya juga luar biasa:

Jack mengembuskan asap rokok kuat-kuat seperti ikan paus menyemburkan air... (hlm 35)
Alma menggosok piring dengan keras, sehingga Ennis mengira wanita itu akan menggosok habis gambar di piring. (Hlm 47)

Dan keerotisan dalam buku ini dilukiskan dengan sangat halus, tidak sampai terjebak dalam gambaran-gambaran jorok. Perasaan cinta yang kuat di antara keduanya terlukiskan sangat pilu.

Satu hal yang tak pernah berubah: emosi membara dari persetubuhan mereka yang jarang menjadi kelam akibat perasaan akan cepatnya waktu berlalu, tidak pernah ada cukup waktu, tidak pernah cukup. (hlm 57)

“... Kau terlalu hebat buatku Ennis, dasar keparat kau. Kalau saja aku tahu bahgaimana caranya meninggalkanmu.” (hlm 61)

Tidak ada yang bisa merusak kenangan akan pelukan itu, bahkan kesadaran bahwa Ennis tidak mau memeluknya dari depan hingga mereka berhadapan muka karena Ennis tidak mau melihat atau merasakan bahwa Jack-lah yang sedang dipeluknya. Dan mungkin, dia pikir, hubungan mereka takkan pernah lebih jauh daripada itu. Biarkan saja, biarkan saja apa adanya. (hlm 64)

Sepasang kemeja itu seperti dua kulit yang menyatu, satu di dalam yang lain, berdua bersama.” (hlm 75)

Novelet ini sama sekali tidak mempertanyakan (dan menjawab) benar dan salah atau baik dan buruk hubungan sesama jenis. Tapi lebih pada potret jujur yang membuka mata akan kenyataan kehidupan tersembunyi ini dan konflik nyata yang terjadi dari sikap orang pembenci homoseksual (homophobia). Bagus untuk dibaca para gay, pengamat sosial dan penikmat sastra. Bacaan yang penuh akan nilai kemanusiaan yang plural.



Tentang Pengarang:
~Annie Proulx merupakan penulis perempuan pertama yang memenangkan penghargaan bergengsi P.E.N-Faulkner Award tahun 1993 untuk novel perdananya Postcards.
~Tahun berikutnya ia memenangkan Pulitzer Prize dan National Book Award untuk novel The Shipping News.
~Brokeback Mountain merupakan novela yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek berjudul Close Range: Wyoming Stories (1991). Brokeback Mountain pernah di muat di majalah The New Yorker dan mendapat penghargaan O. Henry Awards Short Story Awards. The New Yorker Book Award juga memberikan penghaergaan Best Fiction dan tahun 2005, Brokeback Mountain diangkat ke layar lebar oleh sutradara hebat Ang Lee.

20 komentar:

  1. Wuih reviewnya keren dan lengkap dan puitis, kayak yg bikin. Ini buku masih ada nggak ya? Dl pernah diobral 5rb tp ga sempet beli hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. waa kalo ada 5rb aku nitip ya mas.. mau kujual lagi.. hahaha *toyor*

      Hapus
  2. Udah pernah nonton filmnya, dan cuma ingat gunung2, domba, sama dua cowok tidur dalam satu tenda :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkw,, gmna perasaan mbak desty saat liat adegan 'itu'?

      Hapus
  3. ak dulu g mau nonton filmnya, ehehehe. wah tipis banget ya bukunya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenapa gak mau mbak? cwoknya ganteng2 loo.. wkwkw,, iya ini sebenarnya cerpen.. salah satu cerpen dalam kumcer Annie Proulx yg dikumpulkan dalam "Close Range: Wyoming Stories"

      Hapus
  4. jadi kangen heath ledger euuy =') bagus reviewnya Jamal, bikin aku tertarik baca bukunya meski udah pernah nonton filmnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. bukunya very puitis mbak.. menetes deh ilerku, eh maksudnya air mataku..

      Hapus
  5. nonton filmnya cuman karena ada Heath Ledger. Karena dah nonton filmnya, jadi agak malas baca bukunya.

    Eh jadi endingnya beda gitu ma yang di pilem? atau hanya penjelasan aja kenapa Jack meninggal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ending di film agak ambigu antara statemen istri Jack tentang kematian itu dan bayangan dalam kepala Ennis, tp di buku jelas dong! wkwkwkw

      Hapus
  6. belum baca dan belum nonton *dulu agak ga tertarik tapi setelah baca reviewmu kayaknya bakal nyari filmnya deh.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap! film dan bukunya oke oke!! ntr kabari aq kalo uda nnton pilemnya ya..

      Hapus
  7. Balasan
    1. coba mas cari di googe. masukin kata "Jual buku Brokeback Mountain Gramedia" mgkin ada...

      Hapus
  8. Ngudek" isi Gramedia store TA nggak nemu ni buku, mau nanya tapi malu, belum ketemu pengen tahu. Belum nnton juga filmnya, boleh pinjam bukunya mas?

    BalasHapus
  9. Dulu pernah tahu buku ini di Gramedia... diobral harganya 5rb gitu... yaaaah... gak mungkin juga saya beli buku ini walau sebenarnya buku ini murah dan bagus... :D hehehe

    Pernah nonton Filmnya juga, tapi yang terpenting jangan menilai dari negatifnya... ini nyasar ke Blog ini gara-gara cari Nama pemeran di The Day After tomorrow... :D

    BalasHapus
  10. Saya suka artikel ini, izin copas.... Karena hingga kini hanya bs merasakan filmnya. Semoga filmnya benar2 mendekati kisah dalam buku itu.

    BalasHapus
  11. Pernah nonton film-nya dan setelah baca review Mas Jamal jadi kepincut pengen baca bukunya :)

    BalasHapus
  12. Reviewnya bagus sekali, ya ini salah satu film yg sama bagus dengan bukunya. Emosi dalam buku ini berasa dan paragraf akhirnya luar biasa.

    BalasHapus
  13. Bru nonton filmnya stelah lama tau film ini,pandangan awal negative thinking dlu sblum nonton isi filmnya..ko ane ngrasa kasian ya ma si ennis?hehe sijack mati nya krna apa sih??

    BalasHapus