Jumat, 31 Mei 2013

[BOOK REVIEW] CHEKOV THE EARLY STORIES



AWAL PERJUMPAAN DENGAN SANG RAJA



Judul          : Matinya Seorang Buruh Kecil
Judul Asli  : Chekov The Early Stories
Pengarang  : Anton Chekov
PenerBIT   : Melibas (sekarang menjadi Scripta Manent)
Tahun          : 2001

Aku memilih Anton Chekov sebagai raja cerpen dunia! Akan kuutarakan alasannya nanti kenapa aku begitu mengagumi beliau, sekarang terlebih dahulu akan kuceritakan awal perjumpaan dengan sang raja ini!
 
Awal aku gemar membaca adalah ketika duduk di SMA. Waktu itu kehidupanku sedang berubah. Biasanya selalu ada dua kakak yang menemaniku, lalu tiba-tiba aku menjadi seperti anak tunggal dalam keluarga. Kedua kakakku masuk perguruan tinggi di Malang. Usia mereka yang hanya berjarak dua tahun (jarak denganku 9 tahunan) membuat mereka bisa kuliah dalam kampus yang sama dan tinggal dalam kost yang sama juga, meskipun mereka berbeda jurusan. Dan di sinilah aku, di rumah kesepian.

Untuk membunuh waktu-waktu yang sepi, aku mulai membaca buku peninggalan kakak sulung. Ternyata enak sekali membaca itu. Lalu setelah beberapa buku kubaca, kutemukan buku dengan cover yang sangat jelek: biru polos dengan foto laki-laki di tengah! Ha! Aku masih sangat ingat waktu itu sore menjelang petang, aku mulai membacanya tanpa minat (waktu itu aku belum mengenal Anton Chekov dan belum gemar membaca cerpen). Saat mulai kubaca, jidatku langsung berkerut! Apa ini? Ceritanya sangat aneh! Cerita pertama berjudul Peristiwa di Pengadilan dibuka dengan kalimat: “Belum lama ini ada suatu peristiwa yang terjadi pada sidang pengadilan di distrik N.” Nah lo! Aneh sekali bukan? Tapi di kemudian hari aku tahu bahwa kalimat pembuka itu keren! Kata ‘belum lama ini’ membuat kisah itu seolah-olah baru terjadi beberapa minggu atau beberapa hari yang lalu. Padahal Chekov menulisnya di tahun 1900an terpaut lebih 100 tahun (satu abad) saat kubaca karyanya, tapi cerita tetap terasa baru.
 
Anton Pavlovich Chekov
Seperti yang kukatakan tadi, aku ingat betul mulai membacanya sore menjelang magrib. Cerpen pertama kukunyah dengan perasaan heran, aneh sekali ceritanya! Tapi kok beda ya? Lalu adzan magrib membuatku mengingatkanku untuk berhenti sejenak. Tapi tidak kugubris. Aku mau baca satu cerita lagi. Nanti kalau iqomah saja aku pergi sholatnya. Aku pun membaca cerpen kedua. Dan sepulang dari berjamaah sholat di musholah aku ingin membaca buku itu lagi. Tidak pernah sebelumnya aku merasakan ketagihan membaca seperti itu. Padahal aku cukup tersiksa dengan istilah dan kata-kata bari yang Chekov tulis, mengingat waktu itu aku belum terbiasa membaca buku terjemahan. Tapi cerita keseluruhannya dapat kupahami dan sangat indah.

Tema cerita yang diangkat Chekov tak muluk-muluk. Sederhana sekali. Namun banyak renungan, sindiran dan krikik sosial di dalamnya serta banyak sekali hikmah kehidupan yang bisa dipetik di dalamnya. Ada 13 cerpen yang semuanya kusukai. Semua kisahnya unik dan sangat berkesan mendalam. Dan yang paling hebatnya lagi adalah cerpen-cerpen Chekov tak pernah usang! Mau dibaca berulang-ulang tak akan pernah bosan dan malah terlihat lebih hidup dan semakin menyentuh saat mengulang membacanya.

Dari 13 cerpen ini yang paling saya sukai adalah yang berjudul “Barang Antik”. Ceritanya adalah seorang pasien bernama Sasha, anak tunggal dan yatim, yang tak mampu membayar jasa yang amat besar dari seorang dokter desa bernama Florinsky yang telah menyelamatkan nyawanya. Ibunya yang sangat mencintai Sasha menitipkan barang seni yang sangat antik dan langka peninggalan almarhum suaminya untuk diberikan pada Dr. Florinsky. Tapi sang dokter tidak mau. Dia ikhlas membantu saja. Sasha memaksa, katanya, “Kalau dokter menolak, kami akan sangat terhina …” tapi tetap saja sang dokter menolak pemberian yang baginya berlebihan itu. Dan sasha tetap memaksa. Akhirnya sang dokter mengalah dan mau menerima barang antik tersebut.

Begitu Sasha membuka bungkus barang itu, sang dokter terpukau. Itu adalah tatakan lilin yang terbuat dari perunggu dan di tatakan tersebut tertempel dua patung yang bisa membuat muka memerah. Patung itu adalah wanita telanjang yang ekspresinya sangat hidup dan begitu menggoda. Sang dokter setuju kalau barang ini sangat indah, tapi bagaimana bisa dia menyimpan barang seperti itu? Bagaimana kalau istri dan anaknya sampai melihat? Lalu jika pasiennya melihat bagaimana? Dia ingin mengembalikannya pada Sasha, tapi tentu saja sifat keras kepala anak itu tidak bisa dikalahkan. Jadi dengan berat hati Florinsky menerima barang itu dan berterimakasih dan titip salam untuk ibunya Sasha. Sebelum pulang Sasha mengatakan bahwa seharusnya tatakan lilin itu ada sepasang tapi sampai Ayahnya wafat, Ayahnya tidak pernah mendapat pasangan tempat lilin itu.

Florinsky berpikir keras sambil mengagumi keindahan patung ini. Bagaimana aku bisa menyingkirkan barang ini? Akhirnya barang itu dia berikan pada temannya yang masih bujang, tapi temannya ternyata juga tak bisa (enggan) menyimpannya. Lalu barang itu diberikan pada orang lain, orang lain pun memberikannya lagi pada orang lain, begitu seterusnya. Tak ada yang mau menyimpan benda indah itu. Lalu orang yang menerima barang itu paling akhir memberikan patung tersebut pada Ibu Sasha karena dia tahu bahwa almarhum suaminya adalah kolektor barang seni. Dan betapa gembira si ibu, terharu dan gemetar dia menyuruh Sasha untuk memberikan barang itu pada Dr. Florinsky karena dia mengira bahwa barang itu adalah pasangan yang selama ini dicari-cari untuk melengkapi barang pertama. Florinsky hanya bisa melongo melihat barang antik yang sudah dia 'singkirkan' kini kembali padanya lagi.

Bagaimana? Lucu ya? Tapi juga mengharukan. Bagaimana perjuangan seorang janda yang sangat menyayangi anak satu-satunya yang sembuh dari penyakit tapi tak mampu membayar.



Cerita lain yang begitu kukagumi masih banyak seperti “Gadis Penyanyi Koor” yang sangat pilu. Dia seorang penyanyi koor yang dituduh merebut suami orang. Sang istri yang melabrak gadis koor itu menghina habis-habisan. Tidak cukup sampai situ dia minta barang-barang pemberian suaminya untuknya itu dikembalikan. Padahal suaminya tidak pernah memberi apapun pada si gadis koor. Tapi karena didesak terus dia berikan semua hartanya. Dan si suami brengsek itu keluar dari persembunyaiannya setelah istrinya pulang. Dan si suami (yang benar-benar sangat brengsek) itu ikut-ikutan menghina si gadis koor karena membuat istri sahnya memohon-mohon. Wanita terhormat memohon-mohon pada gadis miskin. Padahal si gadis koor tak pernah meminta dirinya untuk dicintai, tetapi si suamilah yang mengejarnya, tapi sekarang dia malah dihina dan hartanya yang sedikit itu pun diminta.

Aku sangat kasihan pada gadis koor ini. Chekov sangat luar bisa dalam mendramatisir kejadiannya. Semua kisahnya mungkin sekali diambil dari kehidupan nyatanya, karena dia seorang dokter, yang sama seperti Florinsky, seringkali membayar pasiennya. Dia lebih sering memberi pasiennya ongkos untuk pulang. Dia melakukan tugasnya sebagai dokter didorong oleh kemanusiaan. Dia mengatakan, “Dokter adalah istri sahku. Dan menjadi penulis adalah gundikku.”

Foto dalam buku: Chekov dan istrinya Olga

Anda juga harus membaca “Pencuri Mur” dan “Maronoff, Pak Inspektur” yang sangat menyentil penuh sindiran pada pejabat-pejabat. “Catatan Harian Sang Pemberang” dan “Di Kota Ada Surga” yang sangat indah dan “Buku Pengaduan” yang sangat aneh. Serta judul-judul lain dalam kumcer ini.

Selain mengangkat kisah sederhana dan mendalam tentang kehidupan, ciri khasnya yang memberi ending mengejutkan banyak ‘dicuri’ oleh pengarang-pengarang setelahnya. Bahkan gayanya yang khas mendapat julukan ‘chekovian’ untuk cerpen-cerpen yang seirama dengannya. Membaca karya Chekov kadang kita dibuat terharu biru oleh kepiawaiannya mengaduk emosi dan menelanjangi sifat-sifat orang. Dia pernah berkata, “Man will become better when you show him what he is like!” “Orang akan menjadi lebih baik bila kau menunjukkan macam apa dia sebenarnya.”

Dan itulah yang aku rasakan dalam cerita-ceritanya… oh ya, aku jadi benar-benar paham makna pepatah lama: "Don't judge the books by it's cover.."

Foto dalam buku: chekov dan Gorky

“Setiap goresan cerita yang disuguhkan Chekhov merupakan cipratan catatan tentang harapan dan kecintaan terhadap kehidupan.”
~Maxim Gorky, pelopor sastra realism sosialis

“Chekov membuat saya merasa seperti seorang penulis pemula.”
~George Bernard Shaw, Nobelis sastra 1925

Foto dalam buku: Chekov dan Tolstoy

“Anton adalah seniman tiada banding.”
~Leo Tolstoy, pengarang besar Rusia







4 komentar:

  1. duh...menarik bener bukunya, kepengen punya. itu kisah patung itu lucu juga haha, akhirnya balik maning balik maning. buku ini sekarang masih dijual ga ya? di rumah ada karya Chekov, lupa judulnya deh. penasaran sama gaya bertuturnya Chekov. btw, reviewnya bagus lho.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi makasih mbak.. buku yg ini udah gak ada lagi kayaknya mbak,, yg ada itu yg terbitan Serambi dan Selasar kyaknya..

      Hapus
  2. Kayaknya bagus ya. Jadi kepengen baca ;p

    BalasHapus